1. TEORI KINERJA
A. DEFINISI KINERJA
Bernardin dan Russel (dalam Ruky, 2002:15) memberikan pengertian atau kinerja sebagai berikut : “performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job function or activity during time period. Prestasi atau kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun waktu tertentu.
Menurut Gibson, dkk (2003: 355), job performance adalah hasil dari pekerjaan yang terkait dengan tujuan organisasi, efisiensi dan kinerja kefektifan kinerja lainnya. Sementara menurut Ilyas (1999: 99), kinerja adalah penampilan hasil kerja personil maupun dalam suatu organisasi. Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personil yang memangku jabatan fungsional maupun struktural tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personil di dalam organisasi.
Pengertian kinerja lainnya dikemukakan oleh Payaman Simanjuntak (2005:1) yang mengemukakan kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Kinerja perusahaan adalah tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan. Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja di perusahaan tersebut.
Menurut Irawan (2002:11), bahwa kinerja (performance) adalah hasil kerja yang bersifat konkret, dapat diamati, dan dapat diukur. Jika kita mengenal tiga macam tujuan, yaitu tujuan organisasi, tujuan unit, dan tujuan pegawai, maka kita juga mengenal tiga macam kinerja, yaitu kinerja organisasi, kinerja unit, dan kinerja pegawai. Dessler (2000:87) berpendapat : Kinerja (prestasi kerja) karyawan adalah prestasi aktual karyawan dibandingkan dengan prestasi yang diharapkan dari karyawan. Prestasi kerja yang diharapkan adalah prestasi standar yang disusun sebagai acuan sehingga dapat melihat kinerja karyawan sesuai dengan posisinya dibandingkan dengan standar yang dibuat. Selain itu dapat juga dilihat kinerja dari karyawan tersebut terhadap karyawan lainnya.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang kinerja dan prestasi kerja dapat disimpulkan bahwa pengertian kinerja maupun prestasi kerja mengandung substansi pencapaian hasil kerja oleh seseorang. Dengan demikian bahwa kinerja maupun prestasi kerja merupakan cerminan hasil yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang. Kinerja perorangan (individual performance) dengan kinerja lembaga (institutional performance) atau kinrja perusahaan (corporate performance) terdapat hubungan yang erat. Dengan perkataan lain bila kinerja karyawan (individual performance) baik maka kemungkinan besar kinerja perusahaan (corporate performance) juga baik.
B. SYARAT PENILAIAN KINERJA
Terdapat kurang lebih dua syarat utama yang diperlukan guna melakukan penilaian kinerja yang efektif, yaitu (1) adanya kriteria kinerja yang dapat diukur secara objektif; dan (2) adanya objektivitas dalam proses evaluasi (Gomes, 2003:136).
Sedangkan dari sudut pandang kegunaan kinerja itu sendiri, Sondang Siagian (2008-223-224) menjelaskan bahwa bagi individu penilaian kinerja berperan sebagai umpan balik tentang berbagai hal seperti kemampuan, keletihan, kekurangan dan potensinya yang pada gilirannya bermanfaat untuk menentukan tujuan, jalur, rencana dan pengembangan karirnya. Sedangkan bagi organisasi, hasil penilaian kinerja sangat penting dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan tentang berbagai hal seperti identifikasi kebutuhan program pendidikan dan pelatihan, rekrutmen, seleksi, program pengenalan, penempatan, promosi, sistem balas jasa, serta berbagai aspek lain dalam proses manajemen sumber daya manusia. Berdasarkan kegunaan tersebut, maka penilaian yang baik harus dilakukan secara formal berdasarkan serangkaian kriteria yang ditetapkan secara rasional serta diterapkan secara objektif serta didokumentasikan secara sistematik.
Dengan demikian, dalam melalukan penilaian atas prestasi kerja para pegawai harus terdapat interaksi positif dan kontinu antara para pejabat pimpinan dan bagian kepegawaian
C. METODE PENILAIAN KINERJA
Terdapat beberapa metode dalam mengukur prestasi kerja, sebagaimana diungkapkan oleh Gomes (2003:137-145), yaitu :
1. Metode Tradisional. Metode ini merupakan metode tertua dan paling sederhana untuk menilai prestasi kerja dan diterapkan secara tidak sistematis maupun sistematis. Yang termasuk kedalam metode tradisional adalah : rating scale, employee comparation, check list, free form essay, dan critical incident. (a) Rating scale. Metode ini merupakan metode penilaian yang paling tua dan banyak digunakan, dimana penilaian yang dilakukan oleh atasan atau supervisor untuk mengukur karakteristik, misalnya mengenai inisitaif, ketergantungan, kematangan, dan kontribusinya terhadap tujuan kerjanya. (b) Employee comparation. Metode ini merupakan metode penilaian yang dilakukan dengan cara membandingkan antara seorang pegawai dengan pegawai lainnya. Metode ini terdiri dari : (1) Alternation ranking : yaitu metode penilaian dengan cara mengurutkan peringkat (ranking) pegawai dimulai dari yang terendah sampai yang tertinggi berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. (2) Paired comparation : yaitu metode penilaian dengan cara seorang pegawai dibandingkan dengan seluruh pegawai lainnya, sehingga terdapat berbagai alternatif keputusan yang akan diambil. Metode ini dapat digunakan untuk jumlah pegawai yang relatif sedikit. (3) Porced comparation (grading) : metode ini sama dengan paired comparation, tetapi digunakan untuk jumlah pegawai yang relative banyak. (c) Check list. Metode ini hanya memberikan masukan/informasi bagi penilaian yang dilakukan oleh bagian personalia. (d) Freeform essay. Dengan metode ini seorang penilai diharuskan membuat karangan yang berkenaan dengan orang/karyawan/pegawai yang sedang dinilainya. (e) Critical incident Dengan metode ini penilai harus mencatat semua kejadian mengenai tingkah laku bawahannya sehari-hari yang kemudian dimasukan kedalam buku catatan khusus yang terdiri dari berbagai macam kategori tingkah laku bawahannya. Misalnya mengenai inisiatif, kerjasama, dan keselamatan.
2. Metode Modern. Metode ini merupakan perkembangan dari metode tradisional dalam menilai prestasi kerja. Yang termasuk kedalam metode modern ini adalah : assesment centre, Management By Objective (MBO=MBS), dan human asset accounting.
• Assessment centre. Metode ini biasanya dilakukan dengan pembentukan tim penilai khusus. Tim penilai khusus ini bisa dari luar, dari dalam, maupun kombinasi dari luar dan dari dalam.
• Management by objective (MBO = MBS). Dalam metode ini pegawai langsung diikutsertakan dalam perumusan dan pemutusan persoalan dengan memperhatikan kemampuan bawahan dalam menentukan sasarannya masing-masing yang ditekankan pada pencapaian sasaran perusahaan.
• Human asset accounting. Dalam metode ini, faktor pekerja dinilai sebagai individu modal jangka panjang sehingga sumber tenaga kerja dinilai dengan cara membandingkan terhadap variabel-variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan perusahaan.
2. TEORI BUDAYA KERJA
Budaya kerja diturunkan dari budaya organisasi. Budaya organisasi itu sendiri merupakan sistem nilai yang mengandung cita-cita organisasi sebagai sistem internal dan sistem eksternal sosial. Hal itu tercermin dari isi visi, misi dan tujuan organisasi. Dengan kata lain, seharusnya setiap organisasi termasuk para anggotanya memiliki impian atau cita-cita. Setiap anggota memiliki identitas budaya tertentu dalam organisasinya. Dalam perusahaan dikenal sebagai budaya korporat dimana di dalamnya terdapat budaya kerja.
Seperti dalam suatu perusahaan, cita-cita (visi) sebagai identitas organisasi, misalnya menjadikan dirinya sebagai bisnis terkemuka dengan ciri-ciri berdaya inovasi tinggi, pionir dalam bidangnya, penggunaan teknologi dan sumberdaya manusia yang tangguh, mampu beradaptasi pada lingkungan global termasuk berperan di dalam peningkatan kesejahteraan lingkungan. Untuk mencapai itu maka posisi mutu SDM karyawan menjadi sangat penting karena karyawan adalah pemeran utama dan bukan yang lain. Karena itu, dalam bekerja maka setiap karyawan hendaknya memiliki cita-cita yang berupa kehendak mengenai sesuatu yang ingin dituju dan dicapai. Sebagai tujuan antara misalnya dapat berbentuk keinginan untuk memperoleh status sosial, pengembangan karir, dan memperoleh kompensasi; Sedang sebagai tujuan akhir adalah keinginan untuk mencapai kesejahteraan sosial ekonomi yang maksimum bagi diri dan keluarganya.
Untuk mencapai cita-cita yang dikehendaki maka tiap karyawan perlu mengoptimumkan mutu sumberdayanya. Bentuk ukuran SDM karyawan yang optimum yaitu produktivitas kerja yang maksimum. Dalam konteks budaya kerja, produktivitas tidak dipandang hanya dari ukuran fisik tetapi juga dari ukuran produk sistem nilai. Karyawan unggul menilai produktivitas atau produktif adalah sikap mental: Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada sekarang. Jadi kalau seorang karyawan bekerja, dia akan selalu berorientasi pada ukuran nilai produktivitas atau minimal sama dengan standar kinerja perusahaan. Dengan kata lain, bekerja produktif sudah merupakan panggilan jiwa dan disemangati dengan amanah atau komitmen tinggi sehingga menjadi bagian dari etos kerja keseharian (terinternalisasi): Tanpa diinstruksikan atasan karyawan seperti ini akan bertindak produktif. Inilah yang disebut sebagai budaya kerja.
Aktualisasi budaya kerja produktif sebagai ukuran sistem nilai mengandung komponen-komponen yang dimiliki seorang karyawan (Moeljono, 2004) yakni: (1) pemahaman substansi dasar tentang makna bekerja, (2) sikap terhadap pekerjaan dan lingkungan pekerjaan, (3) perilaku ketika bekerja, (4) etos kerja, (5) sikap terhadap waktu, dan (6) cara atau alat yang digunakan untuk bekerja. Semakin positif nilai komponen-komponen budaya tersebut dimiliki oleh seorang karyawan maka akan semakin tinggi kinerjanya, ceteris paribus. Agar budaya kerja dapat tumbuhkembang dengan subur di kalangan karyawan dan staf maka dibutuhkan pendekatan-pendekatan melalui tindakan manajemen puncak dan proses sosialisasi.
(1) Tindakan manajemen puncak
• Apa yang dikatakan manajemen puncak akan menjadi panutan karyawan.
• Bagaimana manajemen puncak berperilaku akan menunjukkan karyawan bersikap dalam berkomunikasi dan berprestasi untuk mencapai standar kinerja perusahaan.
• Bagaimana manajemen puncak menegakkan norma-norma kerja akan menumbuhkan integritas dan komitmen karyawan yang tinggi.
• Imbalan dan hukuman yang diberikan manajemen puncak akan memacu karyawan untuk meningkatkan semangat dan disiplin kerja.
(2) Proses sosialisasi
Proses sosialisasi dilakukan dalam bentuk advokasi bagi karyawan baru untuk penyesuaian diri dengan budaya organisasi. Sosialisasi dilakukan ketika mereka sedang dalam tahap penyeleksian atau prakedatangan. Tiap calon karyawan mengikuti pembelajaran sebelum diterima. Setelah diterima para karyawan baru melihat kondisi organisasi sebenarnya dan menganalisis harapan-kenyataan, antara lain lewat proses orientasi kerja. Pada tahap ini para karyawan berada dalam tahap “perjuangan” untuk menentukan keputusan apakah sudah siap menjadi anggota sistem sosial perusahaan, ragu-ragu ataukah mengundurkan diri. Ketika karyawan sudah memutuskan untuk terus bekerja, namun proses perubahan relatif masih membutuhkan waktu yang lama maka tiap karyawan perlu difasilitasi dengan pelatihan dan pengembangan diri secara terencana. Dalam hal ini, karyawan harus membuktikan kemampuan diri dalam penguasaan keterampilan kerja yang disesuaikan dengan peran dan nilai serta norma yang berlaku dalam kelompok kerjanya sampai mencapai tahap metamorfosis. Secara keseluruhan keberhasilan proses sosialisasi akan sampai pada tahap internalisasi yang diukur dari (1) produktivitas kerja, (2) komitmen pada tujuan organisasi, dan (3) kebersamaan dalam organisasi.
Hasil penelitian Harvard Business School (Kotter dan Heskett,1992) dalam Moeljono (2004), menunjukkan bahwa budaya korporat mempunyai dampak kuat terhadap prestasi kerja suatu organisasi. Ada empat alasan mengapa pengaruh itu terjadi:
(1) Budaya korporat mempunyai dampak nyata pada prestasi kerja ekonomi perusahaan dalam jangka panjang.
(2) Budaya korporat bahkan mungkin merupakan faktor yang lebih penting di dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan dalam dekade mendatang.
(3) Budaya korporat yang menghambat prestasi keuangan yang kokoh dalam jangka panjang adalah tidak jarang juga ditemukan; Budaya itu berkembang dengan mudah dan bahkan dalam perusahaan yang penuh dengan orang yang bijak dan cerdas.
(4) Walaupun sulit diubah, budaya korporat dapat dibuat untuk lebih meningkatkan prestasi.
Sabtu, 03 Juli 2010
Please make me to love You more..
I was the man in love..but it was,,
I was the man who cares..but it was,,
I'm the man who hopes,,
Please make me to love You more..
not anyone else..
I was the man who cares..but it was,,
I'm the man who hopes,,
Please make me to love You more..
not anyone else..
untittled (first thing I got for my new song)
Sometimes..
I feel lonely..
I feel empty..
without you..
There's no one..
wanna hear me..
understand me..
yeah..no one but you..
Heaven knows..
that i miss you..
that I need you..
But, Heaven knows..
you'd better stay there..
and Heaven knows..
that I will be there..
someday..
yeah..someday..
I feel lonely..
I feel empty..
without you..
There's no one..
wanna hear me..
understand me..
yeah..no one but you..
Heaven knows..
that i miss you..
that I need you..
But, Heaven knows..
you'd better stay there..
and Heaven knows..
that I will be there..
someday..
yeah..someday..
catatan malam hari
this day i start to read again after been a long time..i have so much idea in my mind but as usual i can't write it down..just stuck in my deeply mind.,thanks to "soul to squeeze" to give me a peaceful in my mind..i wanna start but i can't walk..when the way looks like culdesac..it's beautiful when u feel unusual feeling in your heart, i don't care whether it can be hurt or not..but, so far this feeling is strange..what should i call?..love?..no?..fu*ck with love..i don't wanna be trapped anymore..it's absurd, when u don't want to accept this..as though u wanna runaway..because I'll know the end is..just waste my time, but i like it..just bother my mind but it's okay..i can feel it..well, time for the Beatles..twist and shout guy!..to tell the truth, i don't wanna rock and roll tonight, but i dont wanna slave myself with all this blind feelin'..at least, it can be make me have more spirit than before..
NOUN AND TENSES
1.NOUN CLAUSE
Noun clause adalah clause (i.e. subject dan verb) yang difungsikan sebagai noun. Noun clause dalam kalimat pada umumnya digunakan sebagai subject dan object kalimat.
Noun clause dapat diawali oleh:
• Question word atau relative pronoun baik berupa single question word maupun phrase:
• Single question word (i.e. when, how, what, ect.).
• Question word + determiner/ noun/ adjective / adverb.
• Question word + infinitive.
• Conjunction (i.e. whether dan if).
• That atau the fact that.
Sehingga pola dari noun clause adalah:
Question word/conjunction/that + subject + verb + …
A. Noun Clauses diawali dengan Question words
Dalam How to Address Questions sudah dibahas tentang penggunaan kata tanya baik dalam membuat information questions maupun dalam membuat embedded questions. Embedded questions tersebut adalah noun clause. Dalam section ini diberikan contoh tambahan untuk merefresh memori anda.
1. Single question words.
Contoh:
1. Where she is now is still unknown.
2. When they arrive is still uncertain.
3. I know what you did last summer and I still know what you did last summer are two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt. Perhatikan: dalam kalimat ini, noun clause what you did last summer menjadi object dari I know dan I still know, dan setelah digabung dengan: are two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt, menjadi subject majemuk dari kalimat.
Noun clause dapat ditempatkan diawal kalimat (sebagai subject) atau sebagai object. Jika anda ingin merubah posisi noun clause dari subject kalimat menjadi object kalimat, biasanya dibutuhkan pronoun it atau sedikit modifikasi kata. Contoh di atas menjadi:
1. It is still unknown where she is now.
2. Do you know when they arrive?
3. Two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt are I know what you did last summer and I still know what you did last summer. Karena merupakan judul movies, noun clause what you did last summer tidak perlu diputar posisinya.
Note:
a) Clause yang diawali oleh question words tertentu (i.e. when, whenever, where) juga dapat berfungsi sebagai adverbial clause.
Contoh:
1. I was reading a book when the phone rang.
2. I went to where I and my ex girlfriend had been last weekend.
3. I suddenly get nausea whenever I see his face. (nausea = mual/mau muntah).
b). Clause yang diawali oleh question words tertentu (i.e. who, whom, whose + noun) juga dapat berfungsi sebagai adjective clause. Dalam hal ini, kata tanya tersebut sebenarnya adalah relative pronoun.
Contoh:
1. I think you whom Mr. Dodi was looking for. (Saya kira kamu (orang) yang pak Dodi sedang cari-cari tadi).
2. Mr. Dodi, who is a teacher, was looking for you at school.
3. Rommy, whose book was stolen last week, just bought another new book yesterday.
Lantas, bagaimana cara membedakan apakah itu noun clause, adverbial clause, atau adjective clause? Jawabannya sederhana. Noun clause dapat digantikan dengan pronoun it, sedangkan adverbial clause dan adjective clause tidak. Noun clause menjawab pertanyaan what dan who/whom; Adverbial clause menjawab pertanyaan when, where, how (termasuk how much, how often, ect), dan why. Adjective clause (i.e. kata sifat yang berbentuk clause) menerangkan noun, dan relative pronounnya (i.e. who, that, ect.) dalam bahasa Indonesia berarti “yang“.
2. Question words + ever/soever
Kecuali how, diakhir question words dapat ditambahkan ever atau soever menjadi whenever = whensoever, whatever= whatsoever, dan seterusnya. Arti ever atau soever di sini sama, yaitu saja/pun, tinggal dikombinasikan dengan kata tanya di depannya. Sedangkan, how+ever menjadi however (i.e. adverb atau juga disebut kata transisi yang berarti namun/walapun demikian) tidak termasuk dalam kategori ini.
Contoh:
1. We will accept whatever you want us to do. (Kami akan menerima/melakukan apa saja yang kamu ingin kami lakukan).
2. Whoever can melt her feeling is a very lucky guy. (melt = meluluhkan). Be careful: guy (dibaca gae)= laki-laki, sedangkan gay (dibaca gei) = fag = homo.
3. She has agreed to wherever the man would bring her. (Dia telah setuju kemanapun pria itu membawanya pergi). Note: in speaking (informal), preposition (dalam hal ini to, etc.) biasanya diletakkan di ujung kalimat. She has agreed wherever the man would bring her to.
3. Question words + nouns
Question words + nouns yang sering digunakan antara lain: what time (jam berapa), what day (hari apa), what time (jam berapa), what kind (jenis apa), what type (tipe apa), whose + nouns (i.e. whose car, whose book, ect.), dan seterusnya.
Contoh:
1. I can’t remember what day we will take the exam.
2. As long as I am faithful, she doesn’t care what type of family I come from. (faithful = setia).
3. Do you know what time it is?
4. I don’t know whose car is parked in front of my house.
4. Question words + adjectives
Question words + adjectives yang sering digunakan antara lain: how long (berapa panjang/lama), how far (berapa jauh), how old (berapa tua/umur), ect.
Contoh:
1. Man! She still looks young. Do you know how old she actually is?
2. I am lost. Could you tell me how far it is from here to the post office?
3. What a jerk. He didn’t even ask how long I had been waiting for him.
5. Question words + determiners.
Question words + determiners yang sering digunakan adalah: how many (berapa banyak) dan how much (berapa banyak).
Contoh:
1. Is there any correlation between how good he or she is in English and how many books he or she has?
2. How much your English skill will improve is determined by how hard you practice.
6. Question words + adverbs.
Question words + adverbs yang sering digunakan adalah: how often (berapa sering), how many times (berapa kali) ect.
Contoh:
1. No matter how often I practice, my English still sucks. (Tidak memandang berapa kali saya latihan, bahasa Inggris saya masih jelek). Suck (informal verb) = jelek/tidak baik; arti suck yang lain: mengisap.
2. I don’t want my parents to know how many times I have left school early. (leave school early = bolos).
7. Question words + infinitives.
Jika question words langsung diikuti oleh infinitives, infinitives tersebut mengandung makna should atau can/could. Subject setelah question words dihilangkan.
Contoh:
1. She didn’t know what to do = She didn’t know what she should do. (Dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan).
2. Please tell me how to get the train station from here = Please tell me how I can get the train station from here.
3. We haven’t decided when to go to the beach = We haven’t decided when we should go to the beach.
4. Marry told us where to find her = Marry told us where we could find her.
B. Noun clauses diawali dengan whether/if
Whether bisa diikuti oleh OR/NOT bisa juga tidak; makna kalimat biasanya sama walaupun OR/NOT tidak disebutkan (ini tergantung konteks kalimat). Note: whether pelafalannya sama dengan weather (cuaca), tulisannya juga mirip. Be careful, jangan sampai tertukar.
Contoh:
1. I am not sure whether she is coming or not = I am not sure whether or not she is coming = I am not sure whether she is coming. (Saya tidak yakin apakah dia akan datang atau tidak).
2. We can’t decide whether we should go out or stay home. = We can’t decide whether to go or (to) stay home. Perhatikan, infinitives juga dapat digunakan setelah whether.
3. I am not sure whether I should take economics or law after I graduate from high school. (Saya tidak yakin apakah saya harus ngambil Ekonomi atau Hukum setelah lulus SMA nanti).
4. If you take economics, I will take economics. On the other hand, if you take law, I will take law too.
C. Noun clauses diawali dengan that/the fact that
Di sini that berarti bahwa, sedangkan the fact that berarti fakta bahwa. Sedangkan, that dalam adjective clauses berarti yang.
Contoh:
1. That she has had a PhD degree at the age of 20 surprises a lot of people = It surprises a lot of people that she has had a PhD degree at the age of 20.
2. It is the fact that the world is round = the fact that the world is round is well known.
3. It was obvious that she was very sick = The fact that she was very sick was obvious.
4. It seems that it is going to rain soon.
2. NOUN PHRASE
Noun phrases atau frase nomina adalah frase yang terdiri dari nomina atau pronomina (sebagai head) dan modifiers.
Modifiers yang biasanya menyertai nomina adalah:
- determiners (articles, demonstratives, numbers, possessives, quantifiers)
- adjectives, adjective phrases, adjective clauses
- relative clauses
Seperti halnya nomina, frase nomina juga mempunyai fungsi sebagai subjek atau objek dalam suatu kalimat. Perhatikan contoh berikut di bawah ini:
- My coach is happy.
- I like the cars over there.
- The woman who lives there is my aunt.
- Frankenstein is the name of the scientist not the monster.
- I consider Meong my favorite cat.
- Small children often insist that they can do it by themselves.
- To read quickly and accurately is John’s goal.
- Two of my guests have arrived.
- Mr. Jones spoke to Dr. James.
- My friend works with her father.
Frase nomina selalu memiliki nomina sebagai head. Dan umumnya determiners dan adjective phrases menempati posisi sebagai pre-modifiers atau pre-head. Contoh:
- the children
- happy children
- the happy children
Setelah head, diletakkan post-modifiers yang panjangnya tidak dibatasi, contoh: the dog that chased the cat that killed the mouse that ate the cheese that was made from the milk that came from the cow that...
Dalam kenyataannya, pemakaian post-modifiers sepanjang contoh di atas jarang digunakan, bahkan tidak pernah.
Head dari frase nomina tidak harus selalu nomina, bisa juga berupa pronomina (pronouns).
Contoh:
- I like coffee.
- The waitress gave me the wrong dessert.
- This is my car.
Jika yang berlaku sebagai head berupa pronomina, maka frase nomina itu umumnya memiliki head (berupa pronomina) itu saja. Hal ini karena pronomina tidak memerlukan determiners atau adjectives sehingga pre-modifiers tidak diperlukan. Tetapi, beberapa pronomina, memungkinkan untuk ditambahkan post-modifiers.
[Those who arrive late] cannot be admitted until the interval.
Begitu juga numbers, dapat menempati posisi sebagai head dari frase nomina.
[Two of my guests] have arrived.
[The first to arrive] was John.
TENSES
Tenses berkaitan erat dengan time (waktu), walaupun sebenarnya time tidak sama dengan waktu. Karena tenses adalah bentuk gramatikal kata kerja yang menunjukkan kegiatan (yaitu apakah suatu kegiatan itu sudah, sedang, atau mungkin sedang dikerjakan dan akan masih terus berlangsung dalam suatu waktu tertentu).
Dengan kata lain, tenses adalah perubahan bentuk kata kerja dengan adanya perubahan keteranga waktu.
1. Simple Present Tense
Pola : (+) S + Verb1 (s/es) + Complement
(-) S + Do not/ Does not + Verb1 + Complement
(?) Do/ Does + S + Verb1 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan kegiatan, kejadian atau peristiwa yang dilakukan berulang-ulang; jadi sudah merupakan kebiasaan (custom and habitula action).
• I get up early every morning.
• She works at the bank everyday.
Kebiasaan ini pada umumnya ditandai dengan keterangan (adverb of frequency) seperti: usually, often, sometimes, seldom, rarely, always, generally, ever, never, etc.
• My teacher always arrives at school on time.
• I usually take a bath at six every morning.
b. Untuk menyatakan kebenaran umum (general truth).
• The sun rises in the east and sets in the west.
• A week has seven days.
2. Present Progressive Tense
Pola : (+) S + Is/ Am/ Are + Verb-ing + Complement
(-) S + (Is/ Am/ Are) not + Verb-ing + Complement
(?) (Is/ Am/ Are) + S + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan kegiatan, peristiwa yang sedang dilakukan pada waktu sekarang, biasanya ditandai dengan: now, at this time, at this moment, at the present, etc.
• She is studying English now.
• Look! The man is climbing a tree.
• They are playing football in the field.
b. Untuk menyatakan suatu kegiatan, peristiwa, atau kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang dalam waktu dekat (near future) terutama yan menyangkut kata kerja: go, come, do walk, do, run.
• My parents are arriving from Bandung next week.
• I am working tomorrow.
3. Present Perfect Tense
Pola : (+) S + Have/ Has + Verb3 + Complement
(-) S + (Have/ Has) not + Verb3 + Complement
(?) Have/ Has + S + Verb3 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan peristiwa yan sudah dilakukan dan masih sedang berlangsung sekarang. Kata keterangan waktu since dan for sering sigunakan dalam tenses ini.
• We have already finished our work.
• He has gone to Paris several times.
• I have invited you to the party.
4. Present Perfect Progressive Tense
Pola : (+) S + Have/ Has + Been + Verb-ing + Complement
(-) S + (Have/ Has) not + Been + Verb-ing + Complement
(?) Have/ Has + S + Been + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Perbedaan antara Present Perfect Tense dan Present Perfect Progressive Tense terletak pada masalah penekanan suatu peristiwa atau kegiatan, yaitu Present Perfect Tense menitikberatkan pada hasil atau terlaksananya suatu kegiatan, sedangkan Present Perfect Progressive Tense menitikberatkan pada kelangsungan atau proses suatu kegiatan, kejadian atau peristiwa.
• She has been watching TV since 4 o'clock.
• I have been waiting for my friend for two hours.
5. Simple Past Tense
Pola : (+) S + Verb2 + Complement.
(-) S + Did not + Verb1 + Complement
(?) Did + S + Verb1 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk Menyatakan peristiwa, kegiatan, atau kejadian yang dilakukan pada waktu tertentu pada waktu lampau. Tense ini biasanya diiringi kata keterangan waktu (adverb of time) seperti: yesterday, the day before yesterday, last night, a week ago, etc.
• We heard the news some times ago.
• He bought a book yesterday.
• I slept at my grandma's house last night.
6. Past Progressive Tense
Pola : (+) S + Was/ Were + Verb-ing + Complement
(-) S + (Was/ Were) not + Verb-ing + Complement
(?) Was/ Were + S + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan peristiwa yang sedang berlangsung pada saat peristiwa lain terjadi di masa lampau.
• I was studying when you came last night.
• While I was going to school yesterday, I saw her.
• She was watching TV when her father arrived.
7. Past Perfect Tense
Pola : (+) S + had + Verb3 + Complement
(-) S + had not + Verb3 + Complement
(?) Had + S + Verb3 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menunjukkan suatu kegiatan, kejadian atau peristiwa yang sudah selesai dituntaskan di masa lampau sebelum suatu kejadian, kegiatan, atau peristiwa lain terjadi.
• When I had finished writing. I went home.
• You had Studied English before you moved to New York.
• She had visited her Japanese relatives once in 1993 before she moved in with them in 1996.
8. Present Future Tense
Pola : (+) S + Will/ Shall + Verb1 + Complement
S + Be going to + Verb1 + Complement
(-) S + Will/ Shall + Verb1 + Complement
S + Be (not) going to + Verb1 + Complement
(?) Will/ Shall + S + Verb1 + Complement
S + Be going to + Verb1 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menunjukkan suatu kegiatan, kejadian, atau peristiwa yang akan terjadi atau akan dilakukan di waktu yang akan mendatang. Tense ini biasanya diiringi keteranag waktu: tomorrow, next week, next month, two days later, etc.
• He will go for a picnic tomorrow.
• We shall come to your house next week.
• I am going to buy a book toninght.
9. Present Future Progressive Tense
Pola : (+) S + Will be + Verb-ing + Complement
S + Be going to + Verb-ing + Complement
(-) S + Will (not) be + Verb-ing + Complement
S + Be (not) going to + Verb-ing + Complement
(?) Will + S + be + Verb-ing + Complement
Be + S + going to + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Tense yang satu ini berbicara tentang suatu peristiwa yang “Sedang Terjadi” juga sebagaimana Present Progressive Tense, tetapi bedanya dalam Future Continuous Tense maka “Sedang” nya itu bukan sekarang melainkan besok, akan datang, nanti.
• You will be waiting for her when her plane arrives tonight.
• You are going to be waiting for her when her plane arrives tonight.
• I will be watching TV when she arrives tonight.
1.NOUN CLAUSE
Noun clause adalah clause (i.e. subject dan verb) yang difungsikan sebagai noun. Noun clause dalam kalimat pada umumnya digunakan sebagai subject dan object kalimat.
Noun clause dapat diawali oleh:
• Question word atau relative pronoun baik berupa single question word maupun phrase:
• Single question word (i.e. when, how, what, ect.).
• Question word + determiner/ noun/ adjective / adverb.
• Question word + infinitive.
• Conjunction (i.e. whether dan if).
• That atau the fact that.
Sehingga pola dari noun clause adalah:
Question word/conjunction/that + subject + verb + …
A. Noun Clauses diawali dengan Question words
Dalam How to Address Questions sudah dibahas tentang penggunaan kata tanya baik dalam membuat information questions maupun dalam membuat embedded questions. Embedded questions tersebut adalah noun clause. Dalam section ini diberikan contoh tambahan untuk merefresh memori anda.
1. Single question words.
Contoh:
1. Where she is now is still unknown.
2. When they arrive is still uncertain.
3. I know what you did last summer and I still know what you did last summer are two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt. Perhatikan: dalam kalimat ini, noun clause what you did last summer menjadi object dari I know dan I still know, dan setelah digabung dengan: are two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt, menjadi subject majemuk dari kalimat.
Noun clause dapat ditempatkan diawal kalimat (sebagai subject) atau sebagai object. Jika anda ingin merubah posisi noun clause dari subject kalimat menjadi object kalimat, biasanya dibutuhkan pronoun it atau sedikit modifikasi kata. Contoh di atas menjadi:
1. It is still unknown where she is now.
2. Do you know when they arrive?
3. Two Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt are I know what you did last summer and I still know what you did last summer. Karena merupakan judul movies, noun clause what you did last summer tidak perlu diputar posisinya.
Note:
a) Clause yang diawali oleh question words tertentu (i.e. when, whenever, where) juga dapat berfungsi sebagai adverbial clause.
Contoh:
1. I was reading a book when the phone rang.
2. I went to where I and my ex girlfriend had been last weekend.
3. I suddenly get nausea whenever I see his face. (nausea = mual/mau muntah).
b). Clause yang diawali oleh question words tertentu (i.e. who, whom, whose + noun) juga dapat berfungsi sebagai adjective clause. Dalam hal ini, kata tanya tersebut sebenarnya adalah relative pronoun.
Contoh:
1. I think you whom Mr. Dodi was looking for. (Saya kira kamu (orang) yang pak Dodi sedang cari-cari tadi).
2. Mr. Dodi, who is a teacher, was looking for you at school.
3. Rommy, whose book was stolen last week, just bought another new book yesterday.
Lantas, bagaimana cara membedakan apakah itu noun clause, adverbial clause, atau adjective clause? Jawabannya sederhana. Noun clause dapat digantikan dengan pronoun it, sedangkan adverbial clause dan adjective clause tidak. Noun clause menjawab pertanyaan what dan who/whom; Adverbial clause menjawab pertanyaan when, where, how (termasuk how much, how often, ect), dan why. Adjective clause (i.e. kata sifat yang berbentuk clause) menerangkan noun, dan relative pronounnya (i.e. who, that, ect.) dalam bahasa Indonesia berarti “yang“.
2. Question words + ever/soever
Kecuali how, diakhir question words dapat ditambahkan ever atau soever menjadi whenever = whensoever, whatever= whatsoever, dan seterusnya. Arti ever atau soever di sini sama, yaitu saja/pun, tinggal dikombinasikan dengan kata tanya di depannya. Sedangkan, how+ever menjadi however (i.e. adverb atau juga disebut kata transisi yang berarti namun/walapun demikian) tidak termasuk dalam kategori ini.
Contoh:
1. We will accept whatever you want us to do. (Kami akan menerima/melakukan apa saja yang kamu ingin kami lakukan).
2. Whoever can melt her feeling is a very lucky guy. (melt = meluluhkan). Be careful: guy (dibaca gae)= laki-laki, sedangkan gay (dibaca gei) = fag = homo.
3. She has agreed to wherever the man would bring her. (Dia telah setuju kemanapun pria itu membawanya pergi). Note: in speaking (informal), preposition (dalam hal ini to, etc.) biasanya diletakkan di ujung kalimat. She has agreed wherever the man would bring her to.
3. Question words + nouns
Question words + nouns yang sering digunakan antara lain: what time (jam berapa), what day (hari apa), what time (jam berapa), what kind (jenis apa), what type (tipe apa), whose + nouns (i.e. whose car, whose book, ect.), dan seterusnya.
Contoh:
1. I can’t remember what day we will take the exam.
2. As long as I am faithful, she doesn’t care what type of family I come from. (faithful = setia).
3. Do you know what time it is?
4. I don’t know whose car is parked in front of my house.
4. Question words + adjectives
Question words + adjectives yang sering digunakan antara lain: how long (berapa panjang/lama), how far (berapa jauh), how old (berapa tua/umur), ect.
Contoh:
1. Man! She still looks young. Do you know how old she actually is?
2. I am lost. Could you tell me how far it is from here to the post office?
3. What a jerk. He didn’t even ask how long I had been waiting for him.
5. Question words + determiners.
Question words + determiners yang sering digunakan adalah: how many (berapa banyak) dan how much (berapa banyak).
Contoh:
1. Is there any correlation between how good he or she is in English and how many books he or she has?
2. How much your English skill will improve is determined by how hard you practice.
6. Question words + adverbs.
Question words + adverbs yang sering digunakan adalah: how often (berapa sering), how many times (berapa kali) ect.
Contoh:
1. No matter how often I practice, my English still sucks. (Tidak memandang berapa kali saya latihan, bahasa Inggris saya masih jelek). Suck (informal verb) = jelek/tidak baik; arti suck yang lain: mengisap.
2. I don’t want my parents to know how many times I have left school early. (leave school early = bolos).
7. Question words + infinitives.
Jika question words langsung diikuti oleh infinitives, infinitives tersebut mengandung makna should atau can/could. Subject setelah question words dihilangkan.
Contoh:
1. She didn’t know what to do = She didn’t know what she should do. (Dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan).
2. Please tell me how to get the train station from here = Please tell me how I can get the train station from here.
3. We haven’t decided when to go to the beach = We haven’t decided when we should go to the beach.
4. Marry told us where to find her = Marry told us where we could find her.
B. Noun clauses diawali dengan whether/if
Whether bisa diikuti oleh OR/NOT bisa juga tidak; makna kalimat biasanya sama walaupun OR/NOT tidak disebutkan (ini tergantung konteks kalimat). Note: whether pelafalannya sama dengan weather (cuaca), tulisannya juga mirip. Be careful, jangan sampai tertukar.
Contoh:
1. I am not sure whether she is coming or not = I am not sure whether or not she is coming = I am not sure whether she is coming. (Saya tidak yakin apakah dia akan datang atau tidak).
2. We can’t decide whether we should go out or stay home. = We can’t decide whether to go or (to) stay home. Perhatikan, infinitives juga dapat digunakan setelah whether.
3. I am not sure whether I should take economics or law after I graduate from high school. (Saya tidak yakin apakah saya harus ngambil Ekonomi atau Hukum setelah lulus SMA nanti).
4. If you take economics, I will take economics. On the other hand, if you take law, I will take law too.
C. Noun clauses diawali dengan that/the fact that
Di sini that berarti bahwa, sedangkan the fact that berarti fakta bahwa. Sedangkan, that dalam adjective clauses berarti yang.
Contoh:
1. That she has had a PhD degree at the age of 20 surprises a lot of people = It surprises a lot of people that she has had a PhD degree at the age of 20.
2. It is the fact that the world is round = the fact that the world is round is well known.
3. It was obvious that she was very sick = The fact that she was very sick was obvious.
4. It seems that it is going to rain soon.
2. NOUN PHRASE
Noun phrases atau frase nomina adalah frase yang terdiri dari nomina atau pronomina (sebagai head) dan modifiers.
Modifiers yang biasanya menyertai nomina adalah:
- determiners (articles, demonstratives, numbers, possessives, quantifiers)
- adjectives, adjective phrases, adjective clauses
- relative clauses
Seperti halnya nomina, frase nomina juga mempunyai fungsi sebagai subjek atau objek dalam suatu kalimat. Perhatikan contoh berikut di bawah ini:
- My coach is happy.
- I like the cars over there.
- The woman who lives there is my aunt.
- Frankenstein is the name of the scientist not the monster.
- I consider Meong my favorite cat.
- Small children often insist that they can do it by themselves.
- To read quickly and accurately is John’s goal.
- Two of my guests have arrived.
- Mr. Jones spoke to Dr. James.
- My friend works with her father.
Frase nomina selalu memiliki nomina sebagai head. Dan umumnya determiners dan adjective phrases menempati posisi sebagai pre-modifiers atau pre-head. Contoh:
- the children
- happy children
- the happy children
Setelah head, diletakkan post-modifiers yang panjangnya tidak dibatasi, contoh: the dog that chased the cat that killed the mouse that ate the cheese that was made from the milk that came from the cow that...
Dalam kenyataannya, pemakaian post-modifiers sepanjang contoh di atas jarang digunakan, bahkan tidak pernah.
Head dari frase nomina tidak harus selalu nomina, bisa juga berupa pronomina (pronouns).
Contoh:
- I like coffee.
- The waitress gave me the wrong dessert.
- This is my car.
Jika yang berlaku sebagai head berupa pronomina, maka frase nomina itu umumnya memiliki head (berupa pronomina) itu saja. Hal ini karena pronomina tidak memerlukan determiners atau adjectives sehingga pre-modifiers tidak diperlukan. Tetapi, beberapa pronomina, memungkinkan untuk ditambahkan post-modifiers.
[Those who arrive late] cannot be admitted until the interval.
Begitu juga numbers, dapat menempati posisi sebagai head dari frase nomina.
[Two of my guests] have arrived.
[The first to arrive] was John.
TENSES
Tenses berkaitan erat dengan time (waktu), walaupun sebenarnya time tidak sama dengan waktu. Karena tenses adalah bentuk gramatikal kata kerja yang menunjukkan kegiatan (yaitu apakah suatu kegiatan itu sudah, sedang, atau mungkin sedang dikerjakan dan akan masih terus berlangsung dalam suatu waktu tertentu).
Dengan kata lain, tenses adalah perubahan bentuk kata kerja dengan adanya perubahan keteranga waktu.
1. Simple Present Tense
Pola : (+) S + Verb1 (s/es) + Complement
(-) S + Do not/ Does not + Verb1 + Complement
(?) Do/ Does + S + Verb1 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan kegiatan, kejadian atau peristiwa yang dilakukan berulang-ulang; jadi sudah merupakan kebiasaan (custom and habitula action).
• I get up early every morning.
• She works at the bank everyday.
Kebiasaan ini pada umumnya ditandai dengan keterangan (adverb of frequency) seperti: usually, often, sometimes, seldom, rarely, always, generally, ever, never, etc.
• My teacher always arrives at school on time.
• I usually take a bath at six every morning.
b. Untuk menyatakan kebenaran umum (general truth).
• The sun rises in the east and sets in the west.
• A week has seven days.
2. Present Progressive Tense
Pola : (+) S + Is/ Am/ Are + Verb-ing + Complement
(-) S + (Is/ Am/ Are) not + Verb-ing + Complement
(?) (Is/ Am/ Are) + S + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan kegiatan, peristiwa yang sedang dilakukan pada waktu sekarang, biasanya ditandai dengan: now, at this time, at this moment, at the present, etc.
• She is studying English now.
• Look! The man is climbing a tree.
• They are playing football in the field.
b. Untuk menyatakan suatu kegiatan, peristiwa, atau kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang dalam waktu dekat (near future) terutama yan menyangkut kata kerja: go, come, do walk, do, run.
• My parents are arriving from Bandung next week.
• I am working tomorrow.
3. Present Perfect Tense
Pola : (+) S + Have/ Has + Verb3 + Complement
(-) S + (Have/ Has) not + Verb3 + Complement
(?) Have/ Has + S + Verb3 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan peristiwa yan sudah dilakukan dan masih sedang berlangsung sekarang. Kata keterangan waktu since dan for sering sigunakan dalam tenses ini.
• We have already finished our work.
• He has gone to Paris several times.
• I have invited you to the party.
4. Present Perfect Progressive Tense
Pola : (+) S + Have/ Has + Been + Verb-ing + Complement
(-) S + (Have/ Has) not + Been + Verb-ing + Complement
(?) Have/ Has + S + Been + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Perbedaan antara Present Perfect Tense dan Present Perfect Progressive Tense terletak pada masalah penekanan suatu peristiwa atau kegiatan, yaitu Present Perfect Tense menitikberatkan pada hasil atau terlaksananya suatu kegiatan, sedangkan Present Perfect Progressive Tense menitikberatkan pada kelangsungan atau proses suatu kegiatan, kejadian atau peristiwa.
• She has been watching TV since 4 o'clock.
• I have been waiting for my friend for two hours.
5. Simple Past Tense
Pola : (+) S + Verb2 + Complement.
(-) S + Did not + Verb1 + Complement
(?) Did + S + Verb1 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk Menyatakan peristiwa, kegiatan, atau kejadian yang dilakukan pada waktu tertentu pada waktu lampau. Tense ini biasanya diiringi kata keterangan waktu (adverb of time) seperti: yesterday, the day before yesterday, last night, a week ago, etc.
• We heard the news some times ago.
• He bought a book yesterday.
• I slept at my grandma's house last night.
6. Past Progressive Tense
Pola : (+) S + Was/ Were + Verb-ing + Complement
(-) S + (Was/ Were) not + Verb-ing + Complement
(?) Was/ Were + S + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menyatakan peristiwa yang sedang berlangsung pada saat peristiwa lain terjadi di masa lampau.
• I was studying when you came last night.
• While I was going to school yesterday, I saw her.
• She was watching TV when her father arrived.
7. Past Perfect Tense
Pola : (+) S + had + Verb3 + Complement
(-) S + had not + Verb3 + Complement
(?) Had + S + Verb3 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menunjukkan suatu kegiatan, kejadian atau peristiwa yang sudah selesai dituntaskan di masa lampau sebelum suatu kejadian, kegiatan, atau peristiwa lain terjadi.
• When I had finished writing. I went home.
• You had Studied English before you moved to New York.
• She had visited her Japanese relatives once in 1993 before she moved in with them in 1996.
8. Present Future Tense
Pola : (+) S + Will/ Shall + Verb1 + Complement
S + Be going to + Verb1 + Complement
(-) S + Will/ Shall + Verb1 + Complement
S + Be (not) going to + Verb1 + Complement
(?) Will/ Shall + S + Verb1 + Complement
S + Be going to + Verb1 + Complement
Penggunaan:
a. Untuk menunjukkan suatu kegiatan, kejadian, atau peristiwa yang akan terjadi atau akan dilakukan di waktu yang akan mendatang. Tense ini biasanya diiringi keteranag waktu: tomorrow, next week, next month, two days later, etc.
• He will go for a picnic tomorrow.
• We shall come to your house next week.
• I am going to buy a book toninght.
9. Present Future Progressive Tense
Pola : (+) S + Will be + Verb-ing + Complement
S + Be going to + Verb-ing + Complement
(-) S + Will (not) be + Verb-ing + Complement
S + Be (not) going to + Verb-ing + Complement
(?) Will + S + be + Verb-ing + Complement
Be + S + going to + Verb-ing + Complement
Penggunaan:
a. Tense yang satu ini berbicara tentang suatu peristiwa yang “Sedang Terjadi” juga sebagaimana Present Progressive Tense, tetapi bedanya dalam Future Continuous Tense maka “Sedang” nya itu bukan sekarang melainkan besok, akan datang, nanti.
• You will be waiting for her when her plane arrives tonight.
• You are going to be waiting for her when her plane arrives tonight.
• I will be watching TV when she arrives tonight.
Langganan:
Postingan (Atom)